Senin, 06 Mei 2013

"Bacalah" Sebuah Perintah Dari Langit



 Definisi Membaca
 Membaca berasal dari kata baca, yang artinya memahami tulisan. Membaca dalam bahasa Arab iqra’ dan dalam bahasa Inggris reading, menjadi bagian penting dalam mencerdaskan manusia. Iqra’ berarti bacalah, telitilah dalamilah, dan pahamilah.
 Menurut Tate Qamaruddin, kata iqra’ merupakan kata perintah yang tidak menyebut objeknya. Jadi, membaca merupakan perintah yang memerintahkan untuk membaca apa pun, baik ayat-ayat yang tersurat maupun yang tersirat, baik itu ayat-ayat yang bersifat qauliyyah (wahyu) maupun ayat-ayat kauniyyah (semesta).
 Pengertian membaca secara umum, menurut Hodgson dalam bukunya Learning Modern Languages mengatakan, membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Menurut Finochiaro dan Bonomo “Reading is bringing meaning to and getting meaning from printed or written material”.  Artinya, membaca adalah mengambil serta memahami arti atau makna yang terkandung dalam bahasa tulisan.
 Dilihat dari sisi linguistik, membaca merupakan proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process), yang menghubungkan kata-kata tulis (written word), dengan bahasa lisan (oral language meaning), yang mencakup perubahan tulisan atau cetakan menjadi bunyi yang bermakna pernyataan ini dinyatakan Oom Anderson dalam bukunya Language Skills in Elementary Education.
 Jadi, intinya, membaca itu menangkap kandungan-kandungan yang berbentuk simbol-simbol tertentu.
Dua Syarat Membaca
 Allah berfirman:
   
Artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.(Q.S. Al-A’laq : 1-5).
Dalam lima ayat di atas, Allah SWT. Menegaskan kepada kita bahwa ada dua syarat penting dalam membaca:
1.        Bacalah dengan nama Rabb-Mu yang telah menciptakan manusia. Maksudnya, membaca itu harus dengan nama Allah dan tidak boleh mambaca sesuatu yang membuat Allah murka atau membaca sesuatu yang dilarang oleh Allah. Jadi membaca itu harus dengan niat karena Allah dan sesuai dengan aturan Allah, untuk kemaslahatan bumi dan manusia. Ada pun membaca yang tidak bagus dan menyesatkan, maka bukan termasuk dalam membaca yang diperintahkan oleh Allah melalui ayat-Nya “Bacalah dengan nama Rabb-Mu yang telah menciptakan”. Demikianlah syarat pertama, dan ini adalah syarat yang sangat penting.
2.        Hendaknya dengan membaca suatu ilmu tidak mengeluarkan kita dari sifat rendah hati. Kita tidak boleh sombong dengan keilmuan kita. Tetapi, kita harus selalu ingat bahwa Allah-lah yang memberikan ilmu kepada kita.
Allah berfirman:
  
Artinya:
“Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”   (Q.S. Al-A’laq: 3-5).
Makna ini tidak boleh dilupakan oleh para pembaca atau para pencari ilmu selama-lamanya, meskipun ia telah mencapai ilmu yang paling canggih pada masanya. Ketahuilah bahwa Allah-lah yang mengajari kita.
Oleh karena itu, kita tidak boleh sombong terhadap orang-orang yang tidak tahu apa yang kita ketahui.
Wahyu pertama telah memberikan cara yang  benar dalam menuntut ilmu dan cara menggunakannya, yakni harus ada pengakuan bahwa nikmat ilmu itu dari Allah SWT. Di samping itu, seluruh kemampuan ilmu harus diarahkan dalam rangka meraih ridha-Nya.
 Lima Cara Menumbuhkan Minat Baca
 1.  Apa Tujuan kita Membaca?
Secara mutlak cara ini adalah cara paling penting, yakni menghadirkan niat. Apa tujuan kita membaca? Dan mengapa kita membaca?
Rasulullah berkata : "Saya membaca karena Allah SWT. Memerintahkan saya untuk membaca. Allah SWT. Berkata kepada saya dan kaum muslimin dengan perintah secara langsung, “Bacalah!”
Di samping itu, perintah membaca itu sangat berguna bagi umat sebab, umat yang tidak bisa membaca adalah umat yang tidak disegani, ketinggalan zaman, dan hanya taqlid buta. Karena itu, membaca sangatlah penting agar umat Islam selalu menjadi panutan bagi umat-umat yang lain.
Dengan membaca, Kita akan mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Selain itu, juga bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain dan juga bagi umat khususnya Islam. Tidak diragukan lagi bahwa motivator yang sangat besar ini mampu mampu menggerakkan umat untuk membaca.
Inilah cara pertama dan terpenting yang bisa membantu kita supaya membaca, menghadirkan niat, dan menentukan tujuan. Dengan selalu memperhatikan cara ini kita akan memperoleh beberapa perkara yang sangat penting.
 2. Menyusun Perencanaan dalam Membaca
Cara terpenting yang membantu agar senang membaca adalah menyusun perencanaan dalam membaca. Sebab tidak ada gunanya membaca asal-asalan. Akan tetapi, hendaknya kita menyusun perencanaan yang jelas dalam membaca.
Mungkin kita akan merasa capek saat pertama kali menyusun perencanaan. Akan tetapi, kita akan sukses jika betul-betul berkomitmen dengan aturan yang kita buat.
Bersikaplah realistis dalam menyusun perencanaan. Sangatlah tidak realistis jika kita  membaca puluhan buku, sedangkan waktu yang kita sediakan sedikit.
Kita akan gagal dalam pelaksanaannya, sebab kita telah menyia-nyiakan waktu. Jika pelaksanaannya tak seperti yang kita inginkan maka buatlah cara untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri. Insya Allah, evaluasi yang kontinyu ini merupakan salah satu faktor agar perencanaan membaca bisa berjalan dengan sukses. Inilah cara kedua yang bisa membantu untuk membaca setelah menentukan tujuan, yakni menyusun perencanaan
3. Mengatur Waktu      
Cara yang ketiga ini ialah menentukan waktu untuk membaca dan menggunakan semaksimal mungkin waktu-waktu yang jelas-jelas kosong. Selain itu pilihlah waktu yang tepat. Kita bisa berkonsentrasi dalam membaca dan selesai dengan hasil memuaskan di antara pemanfaatan waktu yang jelas ialah waktu jeda antara satu pekerjaan dengan pekerjaan yang lain. Karena itu, setelah membaca buku, kapan saja ada waktu luang, kita langsung bisa membuka-buka dan membacanya hari-hari kita pun  akan semakin berkah, serta umur terasa panjang dan lapang, yang hal ini berbeda dengan waktu-waktu yang telah lalu.
Inilah cara ketiga yang bisa membantu untuk membaca yakni dengan mengatur waktu dengan baik dan tidak menyia-nyiakan waktu.
4. Mulailah Setahap Demi Setahap
Cara yang lebih penting lagi ialah setahap demi setahap (step by step). Ketika sebagian orang membaca lembaran-lembaran tentang  membaca atau pentingnya membaca, maka semangatnya akan menggelora, menyingkap hikmahnya dan akan buru-buru membeli setumpuk buku. Ia akan segera membacanya dan meluangkan waktu sangat banyak untuk itu.
Bahkan keadaanya akan lebih menyita waktu. Oleh karena itu, agar tidak menyita waktu terlalu banyak maka ketika kita sedang membaca sebuah buku janganlah tergesa-gesa nantinya akan timbul rasa bosan dan bahkan akan berhenti membaca maka dari itu mulailah dari setahap demi setahap seperti halnya Allah SWT. menurunkan Alquran secara berangsur-angsur agar dapat dipahami. Hal ini sama dengan membaca. Sesungguhnya, jalannya sangat panjang. Sebab, ia merupakan pedoman hidup jika kita menjadikannya sebagai pedoman hidup. Karena itu, mulailah dengan pemikiran matang sehingga sampai tujuan dengan izin Allah.
5. Sampaikan Apa yang Kita Baca
Cara yang kelima atau yang terakhir adalah menyampaikan apa yang kita baca kepada orang lain. Rasulullah saw bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”. Maka, manusia dituntut untuk mengajar orang lain apa yang telah ia pelajari. Dalam hal ini, faedahnya banyak sekali dan sangat besar manfaatnya. Di antaranya adalah agar ilmu itu terpatri dalam otak kita dan orang lain pun bisa mengambil manfaatnya .
Di samping itu, kita akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang belajar kepada kita tanpa mengurangi kita sedikit pun selaku orang yang mempelajari. Selain itu, Allah SWT. Akan memberkahi ilmu kita.
Ingatlah selalu perkataan yang sangat terkenal “ Barang siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan mewariskan ilmu yang belum ia ketahui”. Setiap kita  mengajari manusia, maka Allah akan menambah ilmu kita.
 “Bacalah!” Sebuah Perintah dari Langit
Pentingnya membaca dalam pandangan Islam, tergantung dalam kalimat pertama pada surat yang pertama kali turun kepada Rasulullah saw. Yakni, kalimat yang menyuruh beliau membaca dan memulainya dengan membaca Nama Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT:

Artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan”. (Q.S. Al-A’laq:1).

Lalu Allah mengulanginya kembali perintah pada ayat berikutnya. Allah berfirman:

Artinya:
“Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah”. (Q.S. Al-A’laq:3).
Perintah pertama yang disampaikan  Allah kepada Rasulullah saw. untuk membaca merupakan kunci pembuka agar umat ini membaca alam, bumi dan langit, serta isi kandungan dan semua yang ada di antara keduanya. Mulai dari bintang gemintang, planet, matahari, bulan, galaksi, lautan awan, air dan lain-lain.
Demikian pula, dengan berbagai jenis pegunungan, mulai dari yang kecil sampai yang besar dengan berbagai corak warnanya. Juga, sungai-sungai yang merupakan saluran kehidupan dalam bumi ini. Ia ada di tengah-tengah pegunungan, di tanah yang datar, hingga ke lautan. Ia memberikan air kehidupan untuk manusia, hewan dan bumi.
Melalui sungai ini pula, manusia dapat berpindah tempat dari yang satu ke tempat yang lainnya. Bahkan di beberapa daerah manusia tak dapat berpindah tanpa sungai. Mereka menikmati ikannya yang segar dan menghiasi diri dengan intan permata dan perhiasannya. Di samping pula pepohonan dan hutan yang manusia menghirup udaranya yang segar nan indah.
Allah SWT. Memerintahkan umat ini untuk membaca pada surat Makkiyah yang pertama kali turun, yakni ketika Allah SWT. Berfirman kepada mereka:

Artinya:
“Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Alquran…….maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Alquran”. (Q.S. Al-Muzzammil: 20)
Dengan demikian, umat yang pada awalnya adalah umat yang tidak bisa membaca dan menulis, manjadi dapat mengajarkan pengetahuan umat yang baik ilmu tentang dunia maupun akhirat, serta  ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan ilmu bumi dan langit kepada segenap penduduk bumi yang memiliki peradaban yang sangat mengakar.
Waspadai Tiga Perkara
1.      Kurang Sabar Ketika Membaca atau Menelaah Buku
Ini merupakan penyakit lama yang semakin parah pada zaman sekarang, terlebih dengan banyaknya ragam acara yang memalingkan dan juga kesibukan lainnya. Sebab, banyak sekali para pembaca yang tidak bisa membaca secara kontinyu serta kehilangan ketabahan dan kesabaran. Hal yang sangat mengherankan lagi, sekarang dunia pemikiran sedang dilkita kehancuran dan penyimpangan yang sangat jelas dalam dan mengembangkan keahlian membaca. Banyak kita saksikan orang-orang yang berada dalam katagori ikatan cendikiawan dan orang-orang yang telah bergelar sarjana (S1, S2, S3, Master atau bahkan Doktor) ternyata tidak pernah membaca buku secara lengkap di luar spesialisasi ilmunya.
Karena itu solusinya, ialah melatih diri secara mendidik dan memperbanyak membaca. Inilah salah satu faktor yang sangat efektif untuk meningkatkan kebiasaan baik ini terlebih lagi, ketika semangat kita berkobar.
Menumbuhkan kebiasaan membaca dalam diri merupakan hal yang paling utama yang harus dilakukan para pembaca dan para pendidik. Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar”.
2.      Kurang Konsentrasi
Banyak orang hanya mampu membaca dengan kedua matanya, tetapi akal pikirannya tak turut membaca. Mereka tidak mengkonsentrasikan daya pikiran mereka guna memahami dan menelaah apa yang mereka baca.
Terkadang, pikiran pembaca menerawang ke sana ke mari. Di dalam pikiran yang terlintas berbagai kegelisahan, kegundahan dan lain-lain. Ia baru sadar bahwa tak terasa dirinya telah menghabiskan waktu yang cukup lama, sedang tak sedikit pun ilmu yang layak untuk diingat-ingat ia dapatkan.
Ada pula sebagian pembaca yang ketika memulai membaca sangat antusias, bersungguh-sunguh, dan berkonsentrasi. Namun, setelah ia membaca beberapa halaman secara pilihan konsentrasinya mulai buyar sehingga ia tak bisa lagi mengontrol dirinya.
Akan tetapi, semua itu berhimpun pada sebuah kesimpulan bahwa seorang pembaca harus bersungguh-sungguh serta antusias dan memiliki konsentrasi dan semangat yang tinggi.
3.        Tidak  Mengamalkan Ilmu yang Ia Baca
Satu hal yang perlu diwaspadai oleh para pembaca atau para pencari ilmu, yakni jangan sampai tidak mengamalkan ilmu yang dibaca atau dipelajari. Pembaca yang sukses ialah pembaca yang mengamalkan ilmu dari hasil bacaannya supaya Allah SWT. mewariskan ilmu yang belum ia ketahui kepadanya dan membukakan mata hati dan akalnya.
Ketahuilah  bahwa apa saja yang kita baca dan kita ketahui, kelak akan menjadi hujjah. Apabila ia akan menjadi pembela bagi kita atau justru sebagai malapetaka? Maka, janganlah kita memperbanyak malapetaka yang akan Allah timpakan kepada kita.
Selain itu, mengamalkan ilmu merupakan faktor utama yang menyebabkan keberkahan ilmu dicabut Allah SWT. Karena itu, para salafusalih adalah orang-orang yang antusias  mengamalkan ilmu apa saja yang mereka pelajari dan mereka baca.
Mari kita renungkan perkataan dari seorang sahabat yang agung yaitu, Abdullah bin Mas’ud ra. ia mengatakan:”Apabila salah seorang dari kamu mempelajari sepuluh ayat Alquran, maka ia tidak akan beralih ke ayat lainnya hingga ia mengetahui maknanya secara detail dan mengamalkannya”.
Wahai para pembaca sesungguhnya ilmu Allah SWT. karunia kepada kita ini perlu di zakatkan, dan zakat ilmu adalah mengamalkannya. Sebagaimana dalam syair berikut ini:
“Amalkanlah ilmu, engkau akan beruntung wahai Saudaraku
Karena takkan bermanfaat ilmu yang tak disertai amal
Ilmu adalah keindahan dan ketakwaan kepada Allah adalah hiasannya
Para mutaqin ialah orang yang sibuk mengamalkan ilmunya”.                 (Dr.Raghib Ar-Sirjani, 2007, 150)
 Speed Reading
Sekarang kita hidup pada era yang serba instan, cepat, dan teknologi pun maju. Tolak ukur keahlian dan potensi seseorang sangat bergantung pada kemampuan membaca yang cepat dan efektif. Karena itu, membaca cepat tidak bertentangan dengan penguasaan ilmu yang dibaca seperti yang sudah sangat popular di tengah-tengah kita. Seorang pembaca biasa yang menghabiskan waktu yang cukup lama hanya karena cara bacaannya yang masih lambat.
Padahal, sebenarnya hal itu tidak diperlukan seorang pelajar sekolah menengah atau seorang mahasiswa yang bisa mempercepat presentase bacaannya hingga 20% sampai 25% dan itu tidak mempengaruhi kemampuannya dalam memahami bacaannya.
Di sisi lain, membaca memang telah menjadi tuntutan hidup kita sekarang, serta hal tersebut akan memberikan cukup banyak waktu yang sia-sia untuk kita. Dalam hal ini, hanya dengan sedikit usaha keras kita dapat menambahkan kecepatan membaca kita.
 Cara Cepat Membaca
1.    Teknik baca pilih (Seleciting)
Yaitu membaca bagian-bagian bacaan yang dianggap relevan atau yang mengandung informasi yang dibutuhkan. Dalam hal ini, sebelum melakukan kegiatan membaca, pembaca telah melakukan pemilihan bahan terlebih dulu.
2.    Teknik baca lompat (Skipping)
Yaitu membaca dengan loncatan-loncatan. Maksudnya, bagian-bagian bacaan yang dianggap tidak relevan dengan bagian bacaan yang sudah dipahami tidak dihiraukan. Bagian bacaan yang demikian dilompati untuk mencapai efektivitas dan efisiensi membaca. 
3.    Teknik baca sekilas (Skimming)
Yaitu membaca dengan cepat untuk memperoleh gambaran umum isi buku atau bacaan secara menyeluruh. Teknik ini dapat dipergunakan sebagai dasar memprediksi apakah suatu bacan atau bagian tertentu dari bacan itu berisi informasi tertentu. Seorang pembaca yang menggunakan teknik skimming hanya memetik ide-ide pokok bacaan atau hal-hal penting bacaan. Teknik ini dipergunakan untuk mengenali topik bacaan, mengetahui pendapat orang atau opini, mengetahui bagian penting tanpa harus  membaca seluruh bacaan, mengetahui organisasi penulis, urutan ide pokok, hubungan antar bagian guna mencari atau memilih bahan yang dibutuhkan, merefresh apa yang pernah dibaca  guna ujian, misalnya.
4.    Teknik baca tatap ( Scanning)
Yaitu suatu teknik bacaan sekilas cepat tetapi teliti dengan maksud untuk memperoleh informasi tertentu dari bacaan yang berisi informasi yang diperlukan tanpa menghiraukan bagian lain yang dianggap tidak relevan.
5.    Lepaskan dirimu dari hiruk piruk keributan atau yang bisa membuyarkan konsentrasi
6.    Ketika kita sedang  membaca duduklah dengan benar dan rileks, dan tidak terlalu santai
Posisi duduk yang salah akan menghambat aliran darah dan ini membuat kita tidak bisa menguasai topik yang dibaca dengan cepat, sebaliknya jika duduk terlalu santai maka akan membuyarkan konsentrasi. Namun kita memanfaatkan waktu rehat dan santai guna membaca hal-hal yang bersifat santai dan hiburan yang tak memerlukan konsentrasi serius serta tak terlalu penting.
7.    Memilih waktu yang sesuai dengan jenis bacaan yang akan dibaca
Bacaan yang bersifat wawasan, akademis, mata pelajaran dan yang semisalnya, perlu keseriusan dan kesungguhan lebih. Waktu dan kondisi yang cocok ialah pagi hari, jauh dari keributan, serta di tempat yang kondusif dan pencahayaan yang tepat.
Usai Membaca
Setelah kita selesai membaca sebuah buku, bukan berarti semuanya telah berakhir. Akan tetapi, untuk memperkuat pengetahuan dalam otak, kita perlu muraja’ah (mengulang) apa yang pernah kita baca. Namun, sebelum kita melakukan hal itu, kita harus menjawab beberapa pertanyaan berikut:
1.    Apa saja tema yang perlu kita ulangi?
2.    Berapakah waktu yang kita perluan untuk mengulangi setiap tema?
3.    Dimana saja titik kelemahan dan kekuatan yang kita miliki?
4.    Apa saja hikmah yang bisa kita intisarikan dari buku yang kita baca?
Ketika akan melakukan muraja’ah (mengulang), kita mesti menjawab beberapa pertanyaan yang kita tuliskan seputar materi yang kita baca. Sehingga, muraja’ah bukan hanya untuk mengulangi bacaan dengan cepat agar daya ingat kita kembali mengingat ilmu yang pernah kita baca, tetapi keadaan muraja’ah di sini lebih dari sekedar membaca.
Kita perlu berbicara, diskusi, dan mengenali pemikiran-pemikiran yang berhubungan dengan tema bacaan. Terkadang untuk memahami apa yang kita baca jelas, kita perlu membaca beberapa begian tertentu dengan sempurna trekadang pula, muraja’ah memerlukan orang yang bisa kita ajak diskusi. Sebab, diskusi cara efektif guna memperbaiki stkitar pembelajaran dan ingatan. Imam Nawawi berkata: “Mudzakarah (mengingat-ingat kembali) memiliki peranan penting untuk memperkuat hafalan. Keberadaannya akan lebih kuat, matang, lengket, dan semakin kokoh jika mudzakarah semakin sering dilakukan. Mudzakarah yang dilakukan secara cerdas dalam satu jam pada suatu bidang tertentu, lebih bermanfaat dari pada menelaah dan menghafal selama berjam-jam.
Sementara itu untuk menghindari kejemuan dan kebosanan, kita bisa membagi tema-tema yang besar kedalam beberapa bagian yang kecil. Dengan catatan, bahwa muraja’ah dilakukan ketika kondisi otak kita sedang fresh dan fit. Kemudian, setelah selesai melakukan muraja’ah bukan berarti kita sudah putus hubungan dengan buku tersebut.
Akan tetapi, kita harus mengulangi muraja’ah berkali-kali terhadap buku-buku tertentu sehingga daya ingat kita dan hubungan kita dengan tema benar-benar kuat.
2.7 Tafsir Surat Al-A’laq ayat 1-5
Allah SWT. Berfirman:

Artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Q.S. Al-A’laq: 1-5).
Dalam shahihnya Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra. yang artinya:” Wahyu yang sampai kepada Rasulullah saw. Adalah mimpi yang benar. Beliau tidak pernah bermimpi kecuali hal itu datang seperti cahaya Subuh. Setelah itu beliau senang berkhalwat.  Beliau datang ke gua Hira dan menyendiri di sana beribadah selama beberapa malam, yang untuk itu beliau membawa bekal kemudian kembali ke Khadijah dan membawa bekal serupa. Sampai akhirnya dikejutkan oleh datangnya wahyu saat beliau berada dalam gua Hira. Malaikat datang kepadanya dan berkata: “Bacalah!” beliau menjawab “Aku tidak bisa membaca” lalu Rasulullah berkata, "Dia merangkulku sampai terasa sesak dan melepaskanku" Ia berkata, “Bacalah!” Aku katakan, “Aku tidak bisa” lalu dia menuntunku mengucapkan lantunan Alquran yakni QS. Al-A'laq: 1-5 sebagai wahyu pertama.
Dengan demikian, awal surat ini menjadi ayat pertama yang turun dalam Alquran sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia. Wahyu pertama yang sampai kepada Nabi saw.  Adalah perintah membaca dan pembicaraan tentang pena dan ilmu tidakkah kaum muslimin menjadikan ini sebagai pelajaran lalu menyebarkan dan mengibarkan panjinya. Sedangkan Nabi saw yang ummi ini saja perintah pertama yang harus dikerjakan adalah membaca dan menyebarkan ilmu. Sementara ayat-ayat berikutnya turun setelah tersebarnya berita kerasulan nabi Muhammad saw. Dan sesudah beliau berdakwah kepada orang Quraisy untuk beriman kepadanya. Sebagian mereka menghasut orang-orang beriman dan menyiksa dan mengajak mereka murtad dari ajaran Islam.
Berikut ringkasan tafsir Surat Al-A'laq ayat 1-5.
1.    Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan
Dengan kekuasaan Allah, Tuhan yang menciptakan engkau dan dengan kehendaknya, maka jadilah engkau orang yang bisa membaca. Dia telah menjadikan kamu dari tidak tahu. Karena Nabi saw. dahulunya tidak dapat membaca dan  menulis. Lalu datanglah perintah, menyuruh beliau agar dapat membaca, walau tidak dapat menulis. Karena beliau akan memberikan sebuah kitab yang akan dibacanya, walaupun dia tidak dapat menulis.
Tuhan yang menciptakan dan mengadakan alam ini adalah kuasa menjadikan kamu dapat membaca walaupun kamu tidak belajar dahulu.
2.    Dia telah mencipakan manusia dari segumpal darah
Bahwa Tuhan yang menciptakan manusia, yakni makhluk yang paling mulia di antara makhluk yang lainnya, dari segumpal darah, yang memberi manusia kekuasaan untuk menguasai segala apa yang ada di bumi, yang menjadikan manusia dapat memimpin dunia dengan ilmunya dan menundukkan sesuatu untuk berkhidmat kepada-Nya, adalah kuasa untuk menjadikan manusia sempurna, seperti Nabi Muhammad saw. dapat membaca, walaupun beliau tidak belajar membaca terlebih dahulu.
Allah SWT.  Yang Maha-Kuasa menciptakan manusia dari segumpal darah untuk menjadi manusia yang hidup dan berpikir serta kuasa Allah pula menjadikan nabi Muhammad saw bisasia dari segumpal darah untuk menjadi manusai yang hidup dan berpikir ayang membaca dan menulis.
3.    Bacalah!
Lakasanakan Membaca yang Aku Perintahkan itu.
Perintah membaca itu diulang-ulang, karena membaca hanya dapat dicapai oleh orang-orang dengan hanya mengulang-ulang dan dibiasakan. Ulangan perintah ini untuk menggantikkan kedudukan apa yang dibaca. Dengan demikian membaca itu menjadi pembawaan nabi Muhammad saw. dan perintah dari Allah SWT.
Allah berfirman:  
Artinya:
“Kami akan membacakan Alquran kepadamu, karena itu, engkau tida akan lupa” (Q.S. Al-A’laa: 6)
Kemudian Allah menghilangkan rintangan yang dikatakanNya kepada Jibril, ketika ia berkata: “Bacalah!” yaitu beliau berkata: “Aku tidak bisa membaca, artinya, Aku buta huruf”.
Dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Tuhan Maha Pemurah terhadap setiap orang yang mengharapkan pemberian. Oleh karena itu, niscaya mudah bagi Allah melimpahkan kenikmatan dapat membaca Alquran kepadamu.
4.        Yang mengajarkan kepada manusia dengan perantaraan-Nya
Tuhan yang Maha Pemurah itu pula yang menjadikan qalam sebagai sarana untuk memberikan saling pengertian di antara manusia meski saling berjauhan, sebagaimana halnya memahamkan mereka dengan perantaraan lisan.
Qalam adalah benda tak berjiwa dan tidak mempunyai kekuatan untuk memberikan pengertian. Oleh karena itu, apakah ada kesulitan bagi Allah yang membuat benda mati lagi diam menjadi alat untuk memberi kamu, orang  yang bisa membaca, menjelaskan serta mengajar karena kamu telah jadi manusia yang sempurna.
Allah melukiskan diri bahwa Dia menciptakan manusia dari segumpal darah, mengajarinya dengan perantaraan kalam adalah untuk menjelaskan tingkah laku manusia ini dan bahwa Dia menciptakannya dari benda yang hina (segumpal darah) lalu jadi manusia yang sempurna, serta untuk mengetahui hakikat sesuatu. Dalam hal ini manusia Dia berfirman: “Renungkanlah hai manusia, kelak kamu akan merasakan bahwa kamu akan dapat beralih dari martabat yang rendah menjadi martabat yang tinggi”. Hal ini mengharuskan adanya Maha Pengatur, Yang Kuasa dan Bijaksana, sehingga membuat selaras semua ciptaannya. Kemudian Allah menjelaskan hal ini dengan uraian-uraian tentang berbagai nikmatNya, dalam ayat-ayat-Nya yang lain.
5.   Yang mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
       Tuhan yang mengeluarkan perintah-Nya agar Rasulullah saw. membaca adalah Tuhan
yang mengajarkan kepada seluruh manusia seluruh ilmu dapat digunakan mencapai kesenangan dan membedakan dirinya dari hewan, yang tadinya manusia tidak mengetahui apa-apa. Oleh karena itu, apakah mengherankan sekiranya Tuhan mengajarkan kepadamu membaca dan ilmu-ilmu yang di luar membaca, padahal dirimu ada pembawaan untuk itu?
Ayat menunjukkan adanya keutamaan membaca, menulis dan ilmu pengetahuan. Demi umurmu, kata-kata tidak terdapat kalam, niscaya ilmu pengetahuan tidak terpelihara, tentara-tentara tidak dapat dihitung, agama-agama akan hilang lenyap, generasi kemudian tidak dapat mengenal generasi dahulu, baik ilmu pengetahuan, penemuan-penemuan, maupun keahlian-keahlian mereka, sejarah orang-orang purba tidak akan tertulis, baik mereka yang berbuat kebajikan maupun yang berbuat kejelekkan dan ilmu mereka tidak akan menjadi cahaya yang digunakan suluh bagi orang kemudian, membangun umat dan menggalakkan penemuan-penemuan.
Demikian juga ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT. Telah menciptakan manusia hidup dan berpikir berasal dari yang tiada dan tidak dapat berbicara, tiada bentuk dan rupa, mengajarkan pengetahuan yang utama yakni tulis baca, dan memberikan manusia itu ilmu yang dahulunya tidak diketahui sedikitpun. Sungguh mengherankan kelalaianmu, hai manusia.
 Manfaat Membaca
Membaca bermanfaat sekali bagi perkembangan otak, kita bisa merasakan itu, tentunya jika sudah membaca. Ada baiknya sebelum membaca kita tanyakan dulu. “Apa sih manfaat membaca?” Menurut Oom Bobbi De Poter, dia mengatakan: “Sebelum kita melakukan hampir segalanya dalam hidup kita, baik secara sadar maupun tidak, kita akan bertanya pada diri kita tentang pertanyaan penting ini: “Apa manfaatnya bagiku?”
Apa manfaatnya bagiku, inilah cara yang akan membangkitkan semangat dan motivasi kita, begitu kita pegang buku, pertanyaan tentang kemanfaatan membaca bisa kita jawab. Pertanyaan-pertanyaan yang biasa hadir dalam otak kita adalah:
1.    Kenapa kita membaca buku itu?
2.    Seberapa banyak manfaat yang bisa kita rasakan setelah membaca?
3.    Apa pengaruh bacaan tersebut?
Serta pertanyaan lain yang bisa kita tanyakan pada diri kita sendiri. Ada beberapa manfaat membaca di antaranya:
1.     Memperluas Wawasan dan Ilmu Pengetahuan
Dengan membaca, kita jadi tahu banyak hal. Kita tahu perkembangan pendidikan, politik, ekonomi, budaya, dan hal lainnya. Banyak membaca membuat kita cerdas, karena aktivitas membaca merangsang otak mempertajam analisis. Banyak buku yang mengajak kita serius, memberi informasi dan pengetahuan, menjawab pertanyaan-pertanyaan. Proses itulah yang dapat menumbuhkan dan  membentuk jaringan syaraf yang baru yang mempengaruhi perkembangan otak menjadi cerdas analisis.
Membaca juga bisa meningkatkan kepekaan linguistik, karena yang kita serap tidak lepas dari unsur tata bahasa, sintaksis, grammer dan lainya terkait ilmu bahasa. Di Amerika Serikat pernah ada studi yamg menyebutkan bahwa anak yang telah dikenalkan kepada buku dan kegiatan membaca memiliki tingkat kemajuan berbahasa lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak membaca.
2.    Meningkatkan Kemampuan Berimajinasi
Imajinasi berarti khayalan atau daya pikir untuk membayangkan atau menciptakan gambar-gambar. Imajinasi bisa membantu kita dalam menyikapi hidup. Kita mampu menciptakan solusi-solusi untuk menyelesaikan berbagai masalah. Karena imajinasi merupakan ide-ide  berkembang. Imajinasi mendorong kita mencapai cita-cita yang kita inginkan, sebab ide-ide dalam  benak kepala terus memotivasi kita. Imajinasi inilah yang akan menjadi jembatan motivasi dalam pencapaian keinginan kita.
Imajinasi juga mengembangkan jalan pikiran kita menjadi kreatif. Kita bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada. Belajar dari pengalaman orang lain lewat buku yang kita baca atas masalah-masalah serupa yang hampir sama dengan yang kita hadapi, bisa memperkaya batiniah dan memberikan alternatif jalan keluar.
3.    Bisa Menemukan Hal Baru yang Berbeda dari Biasanya
Dengan kata lain, kita berinovasi pemberdayaan kreativitas tertentu menjadi cara, proses, sumber, atau nilai baru yang berbeda dengan sebelumnya. Contohnya kita biasa belajar membaca keras. Begitu membaca  buku, kita jadi tahu ada trik belajar yang lebih menyenangkan tanpa harus mengeluarkan energi ekstra untuk bersuara.  Kemudian, kita mempraktikkan metode itu. Inilah yang disebut penemuan baru yang sebelumnya kita tidak ketahui.
4.    Mampu Mengubah Sudut Pandang
Kita bisa mengalami perubahan paradigma dari suatu sudut pandang ke sudut pandang yang baru, dengan membaca. Misalnya, sebelum membaca buku La Tahzan atau Berpikir dan Berjiwa Besar, mungkin kita berpikiran tidak bisa melakukan apa yang kita inginkan, merasa sedih ketika yang kita lakukan menemui kegagalan. Sering menyalahkan keadaan sebagai penyebab. Begitu membaca buku itu, bisa jadi kita “keterlaluan” energi positifnya. Pkitangan kita berubah ternyata setiap kita bisa meraih apa yang diimpikan. Inilah yang dikatakan sebagai efek positif membaca. Kuncinya adalah kreatif.
5.    Bisa Menghilangkan Stres dan Beban Pikiraan
Begitu kita bete, jutek berat, boring, dan lain-lain, cobalah kita baca buku-buku jenaka yang bisa membuat tertawa. Ambilah cerita Abu Nawas . Kalau stres menyerang dan membaca sudah dilakukan tetapi stres belum juga hilang, tenang saja. Kita tidak perlu memaksakan diri kalau begitu tidur saja dulu, setelah bangun, membacanya bisa dilanjutkan. Stres? Hilang. Tapi ingat Alquran tetap bacaan paling bagus penghilang stres, suntuk, resah dan gundah kita.
6.    Mengembangkan Kreativitas
Penulis buku 99 Ways To Get Love Reading. Mary Leonhardi mengatakan “Anak-anak yang gemar membaca akan mampu mengembangkan pola berpikir kreatif dalam diri mereka. Mereka tidak hanya mendengar informasi tetapi juga mendengar mengikuti argumen-argumen yang kaya dan mengingat alur pemikiran yang beragam”. “Gizi” yang diperoleh dari membaca buku dapat mengembangkan pola berpikir kreatif.
Dari sekedar membaca buku kita bisa menangis, tertawa, cemberut, terharu atau gembira. Efeknya tidak hanya berhenti di situ saja. Karena reaksi yang ditimbulkan       bisa memicu kreativitas kita untuk berbuat sesuatu. Misalnya saja dari meringkas bisa menciptakan kreasi cerita yang dikembangkan dari bacaan yang kita baca. Tidak berlebihan kalau membaca bisa memicu kreativitas. Hal ini selaras dengan ungkapan Ayan dia mengatakan, salah tujuan membaca adalah mengobarkan kreatif dan upaya kreatif.
Sadarkah bahwasanya makanan otak kita adalah membaca? Bagaimana jadinya jika otak kita jarang digunakan? Mudah berkarat dan tumpul? Perumpamaan itu pun berlaku pada  penggunaan otak kita. Semakin sering dipakai dan diasah, maka makin  tajam dan kreatiflah otak dan pikiran kita.
7.    Membaca Merupakan Gerbang Perubahan
Membaca ternyata melakukan proses menjadi pembelajar sejati dalam hidup. Pola pikir yang dipengaruhi bacaan akan berpengaruh pada pendewasaan pikir, sehingga tidak disangkal lagi gerakan membaca mampu memberikan “pencerahan” dan perubahan pada diri pembaca.
8.    Menguatkan Kepribadian
Orang yang berilmu tidak mudah terombang-ambing keadaan. Sebutlah para ulama, mereka memiliki kepribadian kuat mempertahankan akidah Islam. Mereka menjadi arif, berwibawa, dan berizzah di tengah masyarakat, karena mereka berilmu dan berkepribadian kuat. Wajar jika ulama jadi rujukan umat. Tidak ada salahnya jika kita mengikuti jejak mereka. Salah satunya dengan membaca untuk menambah ilmu dan pengetahuan. Membaca sungguh-sungguh memiliki pengaruh kuat dalam membentuk kepribadian. Oleh karena itu, mari kita memperbanyak membaca dan menuntut ilmu.

9.    Mempertajam Daya Analisis
Tidak diragukan lagi bahwa membaca bisa mempertajam analisis. Bandingkan orang yang gemar membaca dengan yang tidak. Ibarat pisau yang satu sering diasah, sedangkan yang lain tidak  pernah disentuh, lebih tajam yang mana? Tentu yang sering diasah dan digunakan itulah yang lebih tajam.
10.     Mengembangkan Pola Pikir
Pola pikir yang baik adalah pola pikir yang berdasarkan Alquran dan Assunnah. Ini akan membentuk pola pikir Islami. Untuk mengembangkan pola pikir kita harus belajar dan tidak bosan membaca, baik membaca yang tekstual maupun yang kontekstual. Berbahagialah kalian yang suka membaca.
 Minat Baca di Indonesia
Bagaimana minat membaca di negara kita? Bersumber dari laporan Bank Dunia No. 16369-IND dan studi IEA ( International Assosiation for the Evaluation of Education ) di Asia Timur menunjukkan, tingkat terendah membaca anak-anak dipegang oleh Negara Indonesia dengan skor Indonesia (51,7) di bawah Filipina (52,6) Thailand (65,1) Singapura (74,0) dan Hongkong (75,5) kemampuan anak-anak Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanya 30%.
Kata Sabarudin, rendahnya minat baca atau tidak adanya minat baca di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor. Antara lain, kata dia, yaitu lingkungan yang tidak mendukung. Baik itu di rumah tangga, sekolah maupun pergaulan. Selain itu, lanjut dia, bisa juga disebabkan oleh sarana bacaan yang terbatas. Perpustakaan sekolah dan pribadi tidak tersedia. '' Bisa juga rendahnya minat baca ini disebabkan oleh materi bacaan yang tidak menarik, tidak ada budaya membaca dan juga rendahnya minat dan daya beli,'' ungkapnya.
      Akibatnya, lanjut Sabarudin, posisi Indonesia dari aspek penilaian Human Development Indek (IPM), pada tahun 2003 menempati urutan yang cukup rendah. Indonesia, kata dia, menempati posisi nomor 112 dari 175 negara. Begitu juga, lanjut dia, dari kategori (PERC) 2003. Indonesia, lanjut dia, menempati posisi ke 12 dari 12 negara. '' Artinya, Indonesia menempati peringkat yang terakhir dari 12 negara yang ada,'' paparnya. Menurut Sabarudin, sekarang ini tercipta masyarakat yang tidak kritis dan cerdas. '' Membuat masyarakat kita tidak objektif, sulit dipersatukan dalam bertukar pikiran dan berbeda pendapat,'' imbuhnya. Dan juga terciptanya masyarakat sok tahu dan cepat pikun pada masa usia tua.
Budaya baca di negara kita memang tergolong rendah. Itulah sebabnya Indonesia menjadi negara yang tertinggal. Sebab lain  kurang maraknya dunia baca di Indonesia adalah adanya anggapan miring tentang  membaca, misalnya:
1.    Budaya baca hanya milik orang berpendidikan tinggi;
2.    Membaca membuat suntuk;
3.    Membaca tidak menghasilkan apa-apa;
4.    Membaca hanya membuang waktu dan tenaga;
5.    Membaca hanya bikin ngantuk dan stres;
Adanya anggapan miring seperti itulah yang dapat mengakibatkan orang anti membaca. Kita pasti bertanya “ Memang dengan membaca, kondisi atau krisis multidimensi di negara kita bisa pulih? Setidaknya, keadaan keadaan akan lebih baik ketimbang masyarakat berkutat dengan aktivitas negatif seperti judi dan lain-lain
Hsan Al-lu’lu’i mengatakan, “Empat puluh tahun telah berlalu, dan aku tidak pernah beristirahat pada siang maupun malam kecuali sebuah buku ada pada pelukanku.” Itulah pentingnya sebuah ilmu bagi para ulama apa pun akan dilakukan untuk mendapatkan ilmu asalkan tidak keluar dari syariat. Bahkan Ibn al-Jahm berkata. “Jika aku menemukan menarik dan menyenangkan, dan aku mengira buku itu bermanfaat, maka kamu akan lihat aku dari jam ke jam menghitung berapa halaman lagi yang tersisa,  karena takut akan segera sampai ke akhir buku; dan jika buku itu berjilid-jilid dan beribu-ribu halaman, maka lengkap sudah kehidupan dan kebahagiaanku.” Ibn al-Jahm sampai mengatakan buku sebagai pelengkap kehidupan dan kebahagiaannya. Subhanallah
Dan Cristopher Morley mengatakan.”ketika kita menjual kepada seseorang sebuah buku, kita bukan hanya menjual 12 ons kertas dan tinta serta lem, akan tetapi kita menjual sebuah kehidupan yang lengkap.” Cristopher sampai-sampai menyamakan buku dengan kehidupan. 
 Seputar Dunia Baca
Tahukah kalian apa yang menyebabkan negara Jepang maju yang super duper kutu buku, mengapa budaya baca di sana begitu luar biasa perkembangannya, dan mengapa penerbitan buku begitu marak di negara Sakura itu?
Mengutip data dari Research Institute of Publications, dikatakan bahwa salah atau yang membuat negara Jepang memiliki keunggulan literer adalah akses yang sangat mudah dan dekat dengan sumber bacaan. Tidak kurang dari 23.000 toko buku plus perpustakaan publik bertebaran di seantero wilayah. Hampir di setiap pusat  pembelanjaan, stasiun kereta, dan berbagai tempat strategis lainnya terdapat toko buku atau perpustakaan. Selain itu, dengan lebih dari 4.300 penerbit aktif, setiap tahun Jepang menghasilkan tidak kurang dari 65.000 judul buku. Bahkan data 200 saja menunjukkan angka produksi 72.608 judul buku.
Di Indonesia sangat sedikit toko buku yang memperbolehkan pembaca membaca di tempat. Kalau pun ada, bisa dihitung jari. Belum lagi, terbatasnya buku-buku bacaan yang tersebar di Indonesia. Selain faktor distribusi yang tidak merata, mahalnya harga bacaan menjadi pemicu rendahnya budaya baca di negara kita. Semua itu bisa jadi penghambat kemajuan. Kalau dibandingkan dengan Jepang, jelas negara kita tidak ada apa-apanya.
2.10.1. Mitos Salah tentang Membaca        
Ada beberapa mitos salah seputar membaca yang perlu kita ketahui. Mitos ini kalau dipelihara bisa berkembang dan menjalar ke mana-mana. Kalau tidak segera ditangani, bisa  berlarut dan berbahaya. Dalam buku Quantum Learning karya Bobbi De Porter dan Mike Hernacki menyebutkan mitos tersebut di antaranya:
1.      Membaca itu sulit
Bagi siapa yang tidak gemar membaca pasti akan merasa cepat bosan dan merasa membaca itu sulit dan susah dipahami. Oleh karena itu, kita harus hati-hati jangan sampai terprovokasi berita yang menyudutkan bahwa membaca itu sulit.
Bacalah dengan mata hati, jangan hanya dengan mata kepala, sebab hati merupakan gudang memori. Sebagaimana kata Ibnu Taimiyah,” Barang siapa yang memkitang sesuatu tanpa menggunakan hati, atau mendengarkan kata-kata para ulama dengan tanpa menggunakan hati, maka ia tidak akan dapat mengerti sedikit pun. Sebab, pusat segala sesuatu itu hati”. Gunakan hati untuk membaca agar kita memahami isi bacaan.
2.    Membaca harus perlahan supaya lebih memahami isinya
Ini bisa mengakibatkan kita malas membaca. Bayangkan saja untuk mengetahui buku setebal dua ratus halaman, misalnya, apakah kita harus perlahan-lahan membaca agar memahami isinya, satu demi satu kata dieja? Pasti bosan kalau membaca seperti itu. Terus bagaimana? Kalau begitu lebih tepat jika menggunakan metode baca cepat. Kita ambil poin-poin yang penting sesuai yang kita cari. Jadi, tidak perlu lagi dibaca perlahan, kalau bisa cepat membaca why not?
3.    Membaca harus dengan dieja satu-persatu
Kalau menggunakan cara ini dalam membaca jelas lebih parah dan super bosan dari pada membaca harus dengan pelan. Masalahnya adalah harus membaca dengan cara dieja satu persatu. Masa untuk membaca AKU PASTI BISA harus dieja A-K-U
P-A-S-T-I   B-I-S-A, kelamaan dan bikin nggak sabar, apalagi bagi orang yang terbiasa cepat, bikin capek dan cepat bosan.
4.    Tidak boleh membaca menggunakan jari sebagai penunjuk
Kata banyak orang memang seperti itu. Mitos yang berkembang di masyarakat, membaca dengan menggunakan jari sebagai petunjuk, dilarang. Alasannya macam-macam. Ada yang bilang gerakan jari mengganggu konsentrasi, bisa ketergantungan pada jari yang dijadikan titik fokus, dan lainnya.
  Mengapa Remaja Sekarang Kurang Terpesona Membaca?
Bagaimana jadinya remaja, selaku generasi masa depan bangsa, benci membaca? Banyak faktor yang menyebabkan remaja kurang respek dengan dunia membaca. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab remaja kurang terpesona membaca di antaranya:
1.    Adanya mitos salah membaca
Poin ini telah dibahas di bagian sebelumnya. Bacalah dan resapilah, tentang virus mitos ini. Adanya mitos ini juga menghambat gerakan cinta membaca pada remaja.
2.    Tidak ada pembiasaan membaca
Tidak ada pembiasaan membaca inilah yang membuat remaja kurang respek terhadap dunia membaca. Kebiasaan itu akan menjadi sebuah karakter yang akan melekat pada diri kita. oleh karena itu, jangan dibiasakan kita tidak membaca karena  ketidak biasaan membaca akan menjadikan kita orang yang serba kekurangan.
3.    Lingkungan tidak mendukung
Lingkungan bisa berarti lingkungan keluarga, tetangga, dan juga masyarakat. Bisa juga kebijakan pemerintah masuk lingkungan tidak mendukung. Tidak mandukung di sini berarti jauh dari aktivitas membaca. Misalnya: buku bacaan jadi barang langka, harga buku mahal, lingkungan tidak kondusif, serta tidak ada tempat guna menumbuhkan minat baca.
4.    Bacaan tersaingi TV
Memanglah benar TV berhasil menyihir ribuan, jutaan orang, bahkan lebih. Sayangnya kita hanya bisa menyadari kesalahan tanpa mau mengupayakan perbaikan. Remaja sekarang, lebih terpesona menonton TV ketimbang harus membaca. Dan remaja begitu antusias ketika berbicara tentang acara-acara TV dari pada bercerita buku-buku yang dibaca.
5.    Tidak ada perencanaan khusus membaca
Rata-rata kita agak teledor mengatur waktu. Jangankan meluangkan waktu khusus membaca menyelesaikan pekerjaan wajib saja terkadang malas-malasan. Sebenarnya banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan, sayangnya kita sering mengabaikan hal itu. Dan kalaupun ada waktu khusus untuk membaca paling hanya sedikit.
6.    Pendidikan kurang menekankan pentingnya membaca
Hanya orang yang sadar yang tahu betul pentingnya membaca sehingga dia mau melakukannya. Kalau pun ada tugas membaca dari guru itu pun sangat minim. Memang kesadaran diri sangat dituntut dalam hal ini. Kalau kita mau maju dan lebih cerdas, harusnya membaca jadi kebutuhan.
7.    Minimnya bacaan
Bisa jadi ini faktor penghambat yang sering kita jadikan alasan. Kita menyalahkan tidak minat bacanya karena sedikit bacaan yang kita punya. Tidak heran kalau ada remaja diperintah membaca oleh orang tuanya justru menjawab ”nggak punya bacaan!” padahal, sedikitnya bacaan yang kita punya itu tergantung masing-masing dalam menyikapi. Ada yang pintar mengelola hambatan menjadi peluang dan keuntungan, sehingga mereka bisa mengatasi minimnya bacaan. Ada juga yang tidak mau berbuat apa-apa untuk mengatasi masalah ini.
Cara Mengatasinya
Ada beberapa cara untuk mengatasi permasalahan tersebut di antaranya:
1.    Mengubah mitos salah seputar membaca
Kita bisa berpijak pada perkataan cendikiawan Perancis yang mengatakan bahwa “Mencintai kegiatan membaca adalah mengubah jam-jam penuh kebosanan dengan jam-jam penuh kesenangan”. Pengubahan mitos harus dimulai dari tiap individu, sebagaimana kata Aa Gym mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang paling kecil, dan mulai dari sekarang.
2.    Biasakan membaca meski hanya sedikit
Membiasakan membaca bisa dilakukan di sela-sela kesibukan.Misalnya saja waktu menunggu angkutan, pelajaran, teman mandi dan lain-lain. Meski hanya sepuluh menit atau seperempat jam, tidak masalah. Justru waktu-waktu seperti itu, membaca bisa dijadikan teman yang paling menyenangkan.
Ada kata bijak yang mengatakan” Tempat paling dibanggakan  di dunia adalah yang mempunyai penerangan, dan sebaik-baik teman duduk sepanjang masa adalah buku”.
3.    Cari lingkungan yang mendukung
Lingkungan ini bisa keluarga, teman, atau tempat di mana kita berada. Kalau keluarga sudah mendukung gerakan membaca itu sangat bagus, tinggal membuat kemauan kita untuk menyesuaikan kebiasaan itu. Lingkungan lain yang bisa mendorong minat baca dapat kita temukan di perpustakaan, sekolahan, atau kampus-kampus dan toko-toko buku.
Dari tempat seperti itu kita biasanya semangat dan termotivasi membaca begitu melihat orang lain membaca. Teman yang punya banyak buku, bisa jadi mendukung aktivitas itu. Kita meminjam dan membacanya. Ternyata banyak lingkungan yang mendukung budaya baca. Jadi, jangan lewatkan mencari lingkungsn kondusif yang bisa menjadikan kita senang membaca.
4.    Sadarilah penting dan manfaat membaca
Kalau kita sudah menyadari pentingnya membaca, tanpa disuruh  orang tua pun kita akan melahap semua buku. Menanamkan pentingnya membaca bisa berpengaruh meningkatkan emosi dan motivasi kita. Membaca sama hal dengan memasukan makanan ruhani. Ke dalam pikiran dan jiwa kita. Akibat laparnya ruhani tidak tanggung-tanggung, bisa mengakibatkan gila baca. Sadarilah bahwasanya membaca itu merakit sebuah peradaban yang hebat.
5.    Memiliki perpustakaan pribadi
Perpustakaan merupakan bahan bakar bagi lanjutnya peradaban. Tidak dapat disangkal, perpustakaan memberikan dampak positif pada setiap pembacanya. Guna menggairahkan minat terhadap buku-buku bacaan. Ada baiknya kita memiliki perpustakaan pribadi, kita bisa belajar dan membaca lebih banyak. Sewaktu luang, kita bisa memanfaatkan waktu untuk banyak membaca. Terlebih lagi jika perpustakaan pribadi kita memiliki banyak koleksi bacaan, tentu sangat menyenangkan, ada motivasi tersendiri ketika kita punya koleksi-koleksi bacaan pribadi. Sekecil apa pun bentuk perpustakaan itu, marilah kita usahakan.















membacaara tentang acara-acara TV dari pada bercerita buku-buku yang dibaca.
DAFTAR PUSTAKA

Alquran dan Terjemahnya. 2006. Bandung: Syamil
Afra, Afifah. 2004. Smile up Kiat Cerdas Biar nggak Bete. Surakarta: Mandiri Visi Media
As-Sirjani, Raghib. 2007. Spiritual Reading Hidup Lebih Bermakna Dengan Membaca. Solo: Aqwam.

Miji Lestari, Prembayun. 2007. Bikin Kamu Tergila-Gila Membaca. Yogyakarta: Book Magz.
Materi Tarbiyah Tamhidi
Tafsir Al-Quran. Surakarta: Pondok Pesantren Surakarta
Tafsir Sepersepuluh Dari Al-Quran Al-Karim. Bogor: Jam’iyah Al-Wafa Al-Islamiyah.


























        dzalebih kuat, matang, lengket, dan semakin kokoh jika mudzajarahat hafalan.